Cinta Sejati

Malam ini sebenarnya terasa indah karena bulan tampak mengintip di sela - sela awan dan langit begitu terang diiringi kerlip bintang menambah suasana menjadi romantis dan hangat. Menghiasi muda mudi yang sedang menikmati malam minggu ini dengan pujaan hati mereka. Terlihat nuansa kebahagian mewarnai wajah mereka. Walaupun hanya di pinggir pantai namun mereka tetap menikmati malam ini dengan hati bahagia seakan dunia ini milik mereka.
Lain halnya dengan aku yang berusaha untuk tidak melihat pemandangan itu tetapi aku masih menatap mereka dan ingin seperti mereka. Malam minggu kali ini lagi - lagi aku jalani tanpa orang yang aku sayangi. Dan bahkan tanpa mengabariku di mana keberadaannya saat ini. Ku pengang ponsel berkali - kali berharap agar dia menghubungiku tapi tetap saja ponsel ini sunyi tanpa ada dering sedikitpun.
Aku rindu kamu ,,, aku ingin malam minggu ini bersama denganmu,,,aku ingin menghubungimu tapi aku takut mengganggumu. Lalu aku harus bagaimana? Mungkin saat ini dia sedang kerja tapi kenapa sedikitpun tidak ada kata maaf atau penyesalan karena tiap malam minggu tidak pernah berada disampingku.
Setiap aku meminta penjelasanya yang ada hanya pertikaian mulut yang tiada akhirnya. Dan ujung - ujungnya aku dikira tidak bisa mengerti akan dirinya. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin tidak hanya sekedar status pacar yang menyandang pada diriku tapi aku ingin kamu memperlakukanku selayaknya seperti kekasihmu.
“Dhe,,, aku memang gini… aku tidak bisa romantis seperti cowok lainnya… Aku harap kamu mau mengerti akan kekuranganku ini..” Ucap angga yag masih terngiang - ngiang di telingaku. Tiap aku menuntut hakku sebagai seorang kekasih. Aku tak tega melihat mimik mukannya yang sedu. Tanpa berkata apa – apa secara naluriah langsung kupeluk dia agar dia dapat mendengarkan hatiku yang meronta. Namun mulutku tetap membisu diam dan diam.
Teman – temanku selalu bilang bahwa aku wanita yang beruntung karena aku menemukan seorang pria seperti dia. Pria yang tampan , pendiam dan baik hati. Hanya sebuah senyum yang dapat menanggapi setiap pujian. Aku juga menyadari bahwa apa yang mereka ucapkan adalah benar. Namun keindahan itu tidak selamanya seperti kenyataan yang aku rasakan.
Pria yang saat ini menjadi kekasihku adalah pria yang tujuh tahun lebih tua dari umurku. Dia lebih dewasa dibandingkan aku yang masih berumur dua puluh tahun. Dia yang selalu membimbing setiap langkahku. Sungguh sempurna sekali, benar – benar mahakarya Tuhan yang tak ternilai. Aku juga brsyukur sekali karena mempunyai kekasih seperti dia. Dia sangat menyayangi dan mencintaiku bahkan dia yang mendeklarasikan bahwa hubungan kita serius untuk menuju ke jenjang pernikahan.
Teringat kembali saat dia menyatakan cintanya kepadaku hanya dengan sekali bicara dan tanpa basa basi serta tanpa nuansa romantis. Sejak itu aku terkesan dengannya dan menerima cintanya. Dari awal dia sudah memberitahu bahwa dia tidak bisa romantis seperti kekasihku terdahulu dan aku berusaha untuk memahaminya hingga saat ini.
Semakin hari semakin terasa sekali sifat cueknya. Seperti jarang komunikasi entah melalui telpon atau chating. Dia tidak akan memulai sms atau telpon apabila bukan aku terlebih dahulu yang memulai untuk menelpon atau sms dia. Jarang berkencan, jarang diner bareng jarang dan semuanya serba jarang. Sebenarnya kita hanya bernaung di satu kantor tapi dia tetap tidak bisa sedikitpun untuk membuat hatiku berbunga – bunga.
Lain halnya dengan Lia. Lia adalah temanku satu kantor, dia juga seperti aku yang mempunyai kekasih satu kantor. Tiap hari dia selalu menceritakan kalau kekasihnya selalu memberi surprise seperti mengirimkan karangan bunga yang indah atau sms berupa puisi cinta. Semuanya serba So Sweet. Betapa irinya aku mendengar penuturan Lia. Ingin aku diperlakukan Angga seperti Lia di perlakukann oleh kekasihnya.
Tapi itu tetap tidak akan mungkin karena angga ya angga, lain dengan kekasihnya lia.Oh Tuhan,,, Kenapa ada Species seperti ini.
Kadang aku sering meragu atas sifat dan sikap Angga. Aku semakin sering bertanya apakah dia sungguh mencintaiku atau tidak? Karena sedikitpun dari sikapnya yang seakan tidak membuktikan kalau dia benar – benar mencintaiku. Bahkan aku lebih sering beranggapan kalau dia hanya mempermainkanku.
Hingga saat ini dia tidak pernah mengajakku nonton ke bioskop atau pun sekejar kencan keluar. Tiap aku merengek untuk minta ditemani nonton dia pasti akan menjawab kalau dia tidak suka dengan tempat – tempat yang ramai. Apabila aku tetap merengek pasti dia akan memvonis aku dengan celaan kalau aku seperti anak kecil. Padahal sedikitpun aku tidak ada maksud untuk merengek seperti anak kecil, aku hanya ingin diperlakukan selayaknya seorang kekasih seperti wanita lainnya.
Aku selalu berusaha untuk mengubah dia dan memberitahu apa hal yang aku suka tapi sedikitpun tidak ada yang berubah darinya. Setiap aku bicara pasti dia mengikuti tetapi setelah itu dia akan lupa lagi. Begitu seterusnya tiap hari hingga aku lelah untuk mengingatkannya.
Baru kali ini aku mempunyai kekasih seperti dia. Aku jadi teringat pada semua mantan kekasihku sewaktu masih duduk diabangku SMK. Hampir semua mantan aku mempunyai kebiasaan yang sama yaitu menyapa aku disaat aku bangun tidur melalui sms dan selalu mengupdate keadaan aku tiap empat jam ,seperti bertanya sudah makan atau belum dll. Serta selalu ada surprise setiap hari berupa puisi atau kado istimewa lainnya dan selalu tidak pernah alpa datang ke rumahku tiap malam minggu.
Sungguh berbeda sekali dengan keadaanku saat ini . Dengan kekasih yang benar – benar cuek. Tak ada surprise tak ada sapaan serta tak ada malam minggu. Entah kamus apa yang dia pakai yang pasti aku mulai tidak suka dengan kamus seperti ini. Dan yang pasti aku mulai capek dengan semua ini.
Semakin hari aku semakin lelah akan perlakuan ini, lelah dan lelah.
Akhirnya aku mengambil keputusan untuk menduakan dia. Aku berpikir mungkin dengan cara ini aku lebih bisa menenangkan hati dan pikiranku.
Entah kenapa ternyata niatku ini dikabulkan oleh Tuhan yaitu dua minggu yang lalu aku bertemu dengan Giek mantan kekasihku saat aku duduk dibangku SMK.
Suatu pertemuan yang sangat kebetulan sekali. Kita bertemu di kafe tempat aku merenung, ketika aku sedang kesal dengan perlakuan Angga.
Saat itu tiba – tiba saja ada yang menepuk pundak dari belakang.
“Hai Wie,,,!!”
Ketika aku menoleh, samar - samar aku mengenali wajahnya tenyata dia adalah Giek. Lama tidak bertemu tampaknya dia semakin tampan dan wibawa.
Lantas kita mulai mengobrol dan menceritakan kembali tentang masa lalu saat di SMK. Sifat dan sikapnya tidak ada sedikitpun yang berubah masih sama saat dia di SMK dahulu. Keramahan dan kehangatan dia saat berbicara membuat aku rindu untuk kembali di sampingnya. Perasaan itu membuat aku melupakan Angga walau hanya sesaat..
Akhirnya aku mengetahui sedikit info tentang Giek. Giek saat ini sedang bekerja di kota yang sama denganku dan yang lebih membuat aku sedikit berharap lagi yaitu belum lama ini dia telah putus dengan kekasihnya. Lebih mengejutkan lagi saat dia bertanya tentang statusku. Entah karena apa tiba-tiba aku menjawab bahwa aku belum mempunyai seorang kekasih. Duh kebohongan apa yang telah kulakukan?
Aku menganggap ini sebagai peluang untuk menghapus rasa sepi dan kosong pada diriku. Akhirnya kita sering mengadakan pertemuan secara sembunyi – bunyi . Tidak terlalu sulit untuk mengadakan pertemuan seperti ini bagiku karena Angga bukanlah cowok posesif yang selalu mengabsen keberadaanku tiap jam. Sebenarnya sifat seperti itu bagus sekali asal tidak dibarengi dengan sikap cuek kaya bebek.
Setiap bertemu dengan Giek hatiku terasa plong dan senang seakan semua bebanku terangkat begitu saja. Lama – kelamaan kita semakin mendalami dan mengisi kehidupan masing – masing. Dan aku semakin menikmati keadaan ini.
Tanpa terasa tampaknya aku telah menyetujui hatiku kalau aku memang suka dan sayang Giek. Tetapi aku masih ada beban. Lantas apa yang harus aku lakukan kepada Angga. Secara status aku masih kekasih Angga. Angga belum memutuskanku.
Aku harus segera bicara pada Angga mengenai hubungan ini. Apakah Angga akan menerima keputusamku? Tetapi aku harus melakukan ini semua. Aku tidak ingin terus menerus dicuekin oleh dirinya. Baik… aku siap untuk memutuskan dia.
Sepulang kerja aku sengaja menunggu Angga. Walaupun aku tahu dia akan pulang lebih malam karena hari ini sedang ada meeting .
“Dhe,, tidak seperti biasanya kamu nungguin aku?” Tanya Angga sambil melangkah mengantar aku pulang. Aku hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan itu.
“ Oh ya dhe …. Besok aku aku harap kamu bisa datang yah di Taman jam 11 malam …” Ucap Angga tanpa sedikutpun menatapku. Mendengar ucapan itu membuat aku seolah tidak percaya akan apa yang keluar dari mulut Angga.
“ Lho Ada apa?”
“ Tidak apa-apa ,” Jawab Angga singkat.
“ Iyah aku usahain,” Jawabku tak kalah dingin. Tanpa terasa kami sudah sampai di depan kosanku.
“ Ya sudah kamu istirahat yah …. Met malam ,” Ucap Angga berlalu meninggalkanku.
“ Malam ,” Jawabku ringan seraya memasuki kamar kosku.
Tak selang beberapa menit seperginya Angga. Tiba – tiba Giek menelponku. Dia mengajakku makan malam jam 10 .
“ Iya aku pasti datang”, Jawabku tanpa ragu. Aku lebih memilih menemui Giek dari pada Angga. Seharusnya malam ini aku memutuskan Angga. Tapi kenapa mulutku sulit sekali berbicara. I don’t care !!! Yang pasti besok aku akan berbahagia dengan Giek.
Esok yang kutunggu pun tiba…… Tak terasa waktu berjalan begitu cepat seperti membawa raga ini terus berjalan di dunia fana ini.
Tepat puluh 10:00 pm aku sudah mengenakan gaun pesta warna biru yang sengaja kusiapkan untuk Giek.
Dengan anggun ku duduk menanti Giek di tempat yang dijanjikan ditemani segelas juice.
Sudah lewat 10 menit tetapi ku belum juga melihat batang hidung Giek.
15, 20, 30, 45, 55, ….. 1 jam !!!
Tanpa aku sadari ternyata sudah 1 jam lebih aku menunggu Giek. Apa yang terjadi???
Bergegas ku membayar bill dan berlari ke apartemen Giek yang tak seberapa jauh dari café tempat kami janjian. Walaupun hujan semakin deras mengguyur , tidak merapuhkan niatku untuk menuju apartemen Giek.
Sesampainya di depan pintu kamar apartemen no 15 tanpa ragu langsungku buka pintu tersebut.
Dan ….
Aku lihat Giek tampak mabuk ditemani oleh seorang wanita disampingnya.
“ Wie…..lho kenapa kamu bisa sampai sini.??” Tanya Giek dengan nada terbata dan wajah serba salah.
“ who is she honey?” Tambah gadis yang ada disampingnya.
“ She is ….. ,” Giek menghentikan ucapannya sambil mengerutkan kening.
“Sungguh menyesal sekali aku telah memberikan harapan lebih padamu ,” Ucapku kemudian berlari keluar dari apartemen tersebut.
Dari kejauhan ku mendengar Giek berteriak bahwa aku telah salah paham. Kata – kata itu tidak dapat mencegah langkahku yang semakin menjauh dan tidak dapat menghilangkan rasa sakitku.
“ Dasar bodoh kenapa aku harus memberi harapan kepada dia …. ??? kenapa aku harus percaya lagi kepada dia…??? Kenapa aku seceroboh ini ….. dasar bodoh…!!!” Gerutuku sepanjang jalan.
Aku terus berlari ditemani oleh hujan dan air mata serta penyesalan.
“ Aku akui memang aku bukan cowok romantic tetapi setidaknya aku akan selalu mencintaimu karena aku percaya bahwa kamu juga mencintaiku sepenuh hatimu,” terngiang di kepalaku janji Angga beberapa waktu.yang lalu.
“Bodoh kenapa aku menduakan Angga?” Teriakku didalam hati. Hujan yang terus menerjang payung yang melindungiku kini sudah semakin terasa berat seperti dadaku yang sedang sesak dan sakit.
Tanpa terasa kakiku terlah ditiba di taman dimana tempat seharusnya aku menemui Angga malam ini pukul 11.
Taman ini sudah tampak sepi, hanya rintik hujan yang meramaikan tempat ini.
Tanpa sengaja mataku menangkap sekilas bayangan di dekat lampu. Dari kejauhan aku bisa mengira bahwa bayangan itu milik seorang pria.
Ku menuju mendekati pria tersebut yang sedang duduk di bangku taman dan membelakangiku.
Tiba – tiba aku tercengang dan menyadari bahwa pria itu adalah …...
“ Wie …. !!!” seru Angga yang sudah menyadari akan kedatanganku lalu menghampiriku.
Tampak berjalan seorang pria yang tiada lain adalah Angga menuju tempatku berdiri dengan bajunya yang kuyup menggenggam setangkai bunga mawar putih.
“ Wie …. Aku pikir kamu tidak akan datang … ,” Ucap Angga disertai senyum mengembang di wajahnya.
“ Tepat pukul 12 malam adalah hari ulang tahunmu … Happy birthday Wie…,” Tambah Angga sambil menyerahkan Setangkai mawar putih dan mengecup keningku.
Dengan wajah masih terdiam terpaku ku terima bunga itu dan kurasakan tangan Angga yang terasa dingin….. Apakah dia menungguku dan tanpa berteduh saat hujan tadi…. Kenapa dia mau melakukan ini …. Bahkan aku tidak menyadari bahwa besok adalah tanggal 1 Februari dan merupakan Hari Ulang Tahunku yang ke-20. Tanpa terasa butiran hangat meleleh dari sudut mataku.
“ Angga apa kamu menunggu aku tanpa berteduh ….!!!” Teriakku disela isak tangis. Angga hanya menjawab dengan senyum simpul yang biasa diberikan kepadaku.
“ Dasar bodoh …. Kenapa kau lakukan itu !!! Menyusahkan saja !!!” seruku bak ditengah keramaian umum.
Tanpa menunggu jawaban dari Angga , aku langsung berlari untuk memeluknya melepas perasaan bersalahku dan menumpahkan semua air mataku yang terasa semakin deras mengalir di pipiku.
“ Bukannya dulu kamu pernah bilang kalo kamu ingin agar ada cowok yang memberikan setangkai mawar putih di taman,” Jawab Angga lirih menghenyakkan diriku yang tidak percaya kalau Angga mengingat apa yang aku ucapkan.
“ Makasih Angga … makasih ..”
Maafin aku telah mengingkari kepercayaanmu … maaf aku telah menilaimu buruk ….. maaf aku buta akan kecuekanmu …. Maaf aku tidak memahamimu ….
Kenapa aku tidak menyadari bahwa Angga benar-benar tulus mencintaiku …. Kenapa aku egois dan tidak memahami sifat Angga yang secara lahiriah memang super cuek. Sungguh buta sekali hatiku ini……
Batinku memenuhi rongga dada yang tak dapat satupun ku ucapkan kepada Angga.
Sejak malam itu aku mulai menyadari bahwa tak selamanya cinta sejati harus di uangkapkan dengan kata romantis atau sikap yang romantis pula. Tetapi cinta sejati adalah cinta yang benar – benar tulus dan mau menerima apaadanya. .
Didalam hidup ini tidak ada seorangpun yang sempurna tetapi cintailah seseorang itu dengan sempurna.
read more “Cinta Sejati”

Pena ....



Janganlah engkau menyimpan cinta di balik awan.
Menyita semua pikiran dan jiwa.
Malam terganggu oleh bayanganmu.
Sampai kapankah bertahan?

Pena dan puisi ini adalah perantara hati ini....
Mewakili bibir yang membeku.
Bisu....

Kau sambut hatiku....
Maka penaku menjadi seruling...
Menghembuskan irama rindu.
Tanda kasih tak berpaling.
Dengan Pena ku ukir Perasaanku....
Aku Cinta Kamu


( Memory_ 08 Agustus 2005)
read more “Pena ....”

Sahabat Saat ini esok dan Selamanya


Entah Kenapa Persahabatan ini Dimulai?
Entah Kapan Persahabatan ini Dimulai?
Entah Dimana Persahabatan ini Dimulai?
Entah Bagaimana Memulai Persahabatan ini?
Entah Siapa yng memulainya?

Semua Jawabannya hanya satu Yaitu Hati.
KArena sejak mendengar n melihat n merasakan tawa serta tangismu, sahabat
Membuat hati ini tenang dan untuk Memulai ikatan persahabatan ini.
Persahabatan yang tidak perlu diikrarkan secara resmi dan formal
Hanya diikrarkan oleh hati ini.

Tapi ENtah kenapa Saat Ego perperan protagonis pada persahabatan
Seakan ego itu yang diikrarkan didalam ikatan ini
Sahabat, AKu tidak ingin Ikatan persahabatan kita dikalahkan oleh Ego
Ego untuk tidak memaafkan seulas kesalahanku

Sahabat, aku mohon kalahkan ego n lanjutkan persahabatan kita.
KArena kamu adalah sahabat hari ini, esok dan Selamanya

I Lov U Fren......

read more “Sahabat Saat ini esok dan Selamanya”